Kasus Hak Cipta
Contoh
kasus pelanggaran HAK CIPTA
Perkara gugatan hak cipta gagang panci ergonomis pada panci merek Elite yang dipasarkan oleh PT. Cahaya Agung pada masyarakat umum dilaporkan oleh perusahaan PT. SAMUDRA yang sudah membuat dan memasarkan terlebih dahulu gagang panci ergonomis dan telah dipatenkan ciptaanya. PT. Cahaya Agung digugat karena menjiplak ide dan meniru desain serta fungsi yang serupa dari gagang panci ergonomis yang telah diciptakan oleh PT. SAMUDRA. PT. Cahaya Agung digugat juga oleh model gagang panci ergonomis PT. SAMUDRA karena menggunakan iklan yang sama untuk promo produk gagang panci ergonomis milik PT. Cahaya Agung tanpa adanya perjanjian tertulis dari PT. SAMUDRA. Sang model PT. Cahaya Agung tidak ingin masalah ini dianggap sepele karena dapat mengurangi minat konsumen dalam membeli produk gagang panci ergonomis yang diciptakan oleh PT. SAMUDRA.
Pembahasan
dan penyelesaian kasus
Menurut UU No 19 tah
2002 tenga Hak cipta gugatan untuk PT. Cahaya Agung didasarkan pada Pasal 49 ayat 1 yang berbunyi :
(1)
Pelaku memiliki hak eksklusif untuk memberikan izin atau melarang
pihak lain yang tanpa persetujuannya membuat, memperbanyak, atau menyiarkan
rekaman suara dan/atau gambar
pertunjukannya.
Dengan sanksi
hukumannya yang membayangi kegiatan plagiarism sesuai pasal 72 ayat (1) UU Hak Cipta adalah pidana penjara masing-masing paling scepat 1 bulan dan denda paling sedikit Rp 1.000.000 atau pidana penjara paling lama 7 tahun dan denda paling banyak Rp 5.000.000.Selanjutnya untuk kasus
iklan atau fotografi diatur pada pasal 19 UUH yang berbunyi :
Pasal 19
(1) Untuk
memperbanyak atau mengumumkan Ciptaannya, Pemegang Hak Cipta atas Potret seseorang
harus terlebih dahulu mendapatkan izin dari orang yang dipotret, atau izin ahli
warisnya dalam jangka waktu 10 (sepuluh) tahun setelah orang yang dipotret
meninggal dunia.
(2) Jika
suatu Potret memuat gambar 2 (dua) orang atau lebih, untuk Perbanyakan atau Pengumuman
setiap orang yang dipotret, apabila Pengumuman atau Perbanyakan itu memuat juga
orang lain dalam potret itu, Pemegang Hak Cipta harus terlebih dahulu
mendapatkan izin dari setiap orang dalam Potret itu, atau izin ahli waris
masing-masing dalam jangka waktu 10 (sepuluh) tahun setelah yang dipotret
meninggal dunia.
(3) Ketentuan
dalam pasal ini hanya berlaku terhadap Potret yang dibuat:
a.
atas
permintaan sendiri dari orang yang dipotret;
b.
atas permintaan yang dilakukan atas nama orang
yang dipotret; atau
c.
untuk kepentingan orang yang dipotret.
Pasal 12 UU Hak Cipta, yang melarang
pengguanaan foto secara komersial, pengadaan, pengumuman, pendistribusian,
dan/atau komunikasi atas potret yang dibuat guna kepentingan reklame atau
periklanan secara komersil tanpa persetujuan tertulis dari orang yang dipotret
atu ahli warisnya. Sehingga dalam kasus PT. Cahay Agung tersebut dikatakan
melanggar hak cipta karena sudah menggunakan foto tanpa seizin orang yang ada
dalam foto tersebut.
Komentar
Posting Komentar